Festival Teluk Stabas di Lampung Barat Kaya Pesona

April 29, 2007 at 6:43 pm Leave a comment

BELASAN turis asal Kanada dan Australia, dengan wajah bertopeng serta senyum terus mengembang, ikut berjingkrak-jingkrak membaur berjoget bersama Gubernur Lampung Sjachroedin ZP dan isteri, Trully Sjachroedin, Bupati Lampung Barat (Lambar) Erwin Nizar T serta pejabat lainnya.

Mereka diajak oleh para penari Tarian Sekura (Tari Topeng), salah satu peninggalan leluhur asli di Lambar yang masih terus dilestarikan sampai sekarang, di tengah kemeriahan pembukaan Festival Teluk Stabas (FTS) ke-10 di Lapangan Merdeka di Kota Liwa-Lambar–ratusan Km dari Bandarlampung–Selasa (7/8) sore.

Para turis yang mengaku sedang mengikuti ‘surfing’ di Pantai Tanjung Setia di Pesisir Selatan-Lambar itu pun, seperti enggan berhenti berjoget dengan para penari topeng di sana, kendati para pejabat sudah kembali duduk di kursi masing-masing.

Mereka baru terhenyak dan bergegas untuk duduk, setelah musik yang mengiringi tarian itu berhenti.

“Pesta Sekura” atau pesta topeng merupakan salah satu bentuk budaya asli masyarakat Lampung, khususnya Lambar, berhasil menyedot perhatian pengunjung pada Pembukaan FTS ke-10 di Liwa itu.

Atraksi Sekura, dengan aneka topeng yang ditampilkan pada awal, di tengah dan akhir acara, menjadi perhatian pengunjung yang berkerumun di sekitar tenda tamu dan undangan maupun sekeliling Lapangan Merdeka Kota Liwa.

Pesta Sekura biasanya dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Fitri dari 1 Syawal hingga 5 Syawal atau lebih, yang secara bergantian dilaksanakan dari pekon (desa) ke pekon lainnya.

Pesta itu merupakan ungkapan kegembiraan dalam menyongsong datangnya Idul Fitri, setelah umat melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Sekura adalah topeng atau penutup muka, untuk mengubah penampilan yang menggambarkan suasana gembira dan kebebasan berekspresi maupun berkreasi dalam suatu kebersamaan kelompok.

Terdapat dua jenis Sekura, yaitu “Sekura Betik” (memakai penutup muka dan rumbai-rumbai kian panjang) dan “Sekura Kamak”/Kotor (memakai penutup muka topeng kayu serta penampilan yang kumal (kotor), dengan menggunakan rumbai tumbuh-tumbuhan yang dibawa menghiasi badannya.

Sekura Kamak menggambarkan sifat yang lucu dan sebagai jawara (panjat pinang), sedangkan Sekura Betik bersifat sebagai penghibur.

Pesta Sekura itu, diakhiri dengan panjat pinang yang berisikan berbagai hadiah di pucuknya.

Pesta topeng yang ditampilkan itu diproduksi oleh Sanggar Seni Kayangan Lampung Barat yang diasuh Sanggar Seni Stiwang pimpinan Ny Yurida Erwin Nizar, penata tari Edwardsyah Ma’as, dan penata musik Endang Guntoro.

Dalam festival yang menjadi ‘calendar-event’ tahunan pariwisata Lambar itu, masih banyak ditampilkan atraksi, lomba, pertunjukan dan kompetisi seni dan budaya bernuansa tradisi yang khas masih dilestarikan masyarakat setempat.

Lomba Pacu Kambing dan beberapa kontes serta lomba khas dan tradisional juga meramaikan pelaksanaan FTS.

Staf Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lambar Basuki Rahmat mendampingi Kabag Humas Damri Alamsyah menyebutkan, agenda Lomba Pacu Kambing yang dilaksanakan kepanitiaan dari unsur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Lambar itu, sebagai salah satu unggulan festival untuk menarik pengunjung datang dan menonton ke sana.

FTS ke-10 berlangsung 7-11 Agustus 2007 diramaikan pula dengan tari massal, paramotor, atraksi spektakuler, dan pawai budaya dari 17 kecamatan se-Lambar.

Menurut Gunawan Rasyid, Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Promosi dan Investasi Lambar selaku Ketua Pelaksana festival tahunan itu, tergelar pula Lomba Nyambai, Hadra, Muayak (7-8/8), berupa kompetisi menyanyi bernuansa memadukan irama kasidah dan tradisi seni suara khas Lampung.

Kemudian di Bumi Perkemahan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), pada Rabu (8/8), diadakan pula Lomba Jelajah Alam TNBBS.

Agenda lain, di antaranya Eksibisi Arung Jeram dan Kontes Burung Berkicau (8/8), Lomba Lagu Lampung, Festival Layang Layang, Lomba Voli Pantai, Upih Ngesot (9/8)–prosesi panen padi dengan menggunakan perahu yang meliuk-liuk di rawa-rawa.

Lomba Pacu Kambing dan Olahraga Tradisional Kuda Buta (10/8), Festival Kapal Motor Hias, Triathlon tradisional (8/8)–mengayuh buluh bambu di Danau Ranau dilanjutkan mengayuh perahu jukung, dan diakhiri dengan lari maraton–, Lomba Tari Kreasi, Lomba Panjat Damar, dan Lomba Khika Tengguling (10-11/8)–peserta yang berguling-guling di tanah dengan wadah rotan tradisional.

FTS ke-10 ditutup pada Sabtu (11/8), di lapangan Merdeka Liwa.

Bersamaan FTS itu, juga diresmikan Kawasan Wisata Terpadu (KWT) Seminung Lumbok Resort (SLR) di Lumbok yang berada di tepian Danau Ranau di Lampung Barat yang juga berada di lereng Gunung Seminung itu, pada Rabu (8/8) yang menjanjikan sarana dan fasilitas “wah” bagi pengunjung.

Sejumlah pengunjung FTS itu mengaku kagum dengan kemeriahan dan kekhasan berbagai paket acara yang dikemas di dalamnya.

Belasan wartawan media cetak dan elektronik di Lampung, juga terus bertahan membaur dengan para pengunjung termasuk belasan turis asing, menikmati–sembari menjalankan tugas liputan yang tidak ingin terlewatkan–hingga festival selesai.

Tak Kalah dari Festival Danau Toba

Gubernur Lampung Sjachroedin ZP memotivasi jajaran Pemkab Lambar, agar dapat membuat Festival Teluk Stabas itu yang tidak kalah bersaing dari Festival Danau Toba di Sumatera Utara.

“Jangan pernah kalah dengan Festival Danau Toba, apalagi Lampung Barat juga memiliki Danau Ranau dan juga Pulau Pisang, serta potensi wisata unggulan lainnya,” ujar Gubernur pada pembukaan FTS ke-10 di Lapangan Merdeka, Liwa itu pula.

Lambar memiliki potensi wisata yang tidak akan kalah dari Danau Toba di Sumatera Utara itu.

“Apa yang mereka punyai, di sini kita juga punya,” ujar Sjachroedin yang kedatangannya di lapangan itu disambut Tari Sekura.

Sjachroedin juga menyatakan, apa yang sebelumnya terus didorong-dorong, saat ini di Lambar mulai memberikan bukti, di antaranya adalah dengan kehadiran para turis asing dari Australia dan Kanada.

“Apalagi kalau lapangan terbang di Pekon Serai di sini sudah jadi, akan semakin banyak wisatawan datang ke daerah ini,” kata dia lagi.

Berkaitan dengan kondisi alam di Lambar -sekitar 42,81 persen kawasan non budidaya, yang dapat diusahakan hanya 23,22 persen dan luas hutannnya sebanyak 76,78 persen dari total wilayah 495.040 ha-ia mengingatkan selain kelemahan, pasti terdapat kelebihan dari wilayah kabupaten itu.

Salah satunya, kata Gubernur, adalah potensi wisata dan alam yang terdapat di Lambar dan belum optimal pemanfaatannya.

Menurut Bupati Lambar Erwin Nizar T, FTS ke-10 itu bertujuan untuk mempromosikan potensi wisata Lambar yang sekaligus menjadi objek wisata unggulan daerah Lampung.

Nama Teluk Stabas diambil dari salah satu kawasan Teluk di Krui-Lambar yang menjadi tempat berlabuh kapal Belanda dan asing di sana sejak zaman dulu, sehingga terus digunakan namanya karena telah dikenal kalangan dunia internasional.

Bupati menyebutkan pula salah satu objek wisata selancar (surfing) dan selam (diving) di Pekon Tanjung Setia di Pesisir Selatan Lambar, juga telah dikenal oleh para peselancar dunia.

“Kami juga sudah undang salah satu pengusaha wisata di Bali, Zaenal Thaeb, untuk dapat mengembangkan wisata Danau Ranau dan objek wisata surfing serta pengembangan wisata kawasan Pulau Pisang di sini,” kata Erwin lagi.

Festival itu dinilai kebanyakan pengunjung memiliki pesona yang “dapat dijual” kepada para pelancong dalam dan luar negeri.

Dalam festival itu juga ditampilkan dua potong kue tart tradisional raksasa dari Lambar yang dipotong oleh Gubernur dan isterinya, untuk kemudian dibagikan kepada pengunjung dan masyarakat sekitar.

Kue itu pun jadi rebutan warga terutama anak-anak dan juga orang dewasa, untuk dapat menikmatinya.

Kemeriahan FTS seolah menghapuskan duka mendalam warga Liwa dan Lambar yang pernah dilanda gempa tektonik berskala 6,5 pada Skala Richter pada 15 Februari 1994, dan menewaskan ratusan orang.

“Potensi wisata di Lambar ini, kalau dikelola secara profesional dan terus dipromosikan dengan baik, dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan datang ke sini,” kata pengamat pariwisata Lampung, Ir H Anshori Djausal MSc.

Dia menyebutkan adanya konsep “segitiga emas” (Triangulasi Objek Wisata Lampung), yaitu kawasan Anak Gunung Krakatau dan Menara Siger di Kabupaten Lampung Selatan, Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur, dan Danau Ranau di Lampung Barat yang benar-benar bisa segera diwujudkan sebagai “cluster” wisata memikat di Provinsi Lampung.

“Sudah saatnya Lampung mengemas pesona seni dan budaya khas yang masih terpelihara dan dimiliki, dipadukan dengan keindahan dan pesona alamnya yang juga terus terpelihara, untuk dipromosikan secara terus-menerus agar pada saatnya bisa menjadi tujuan utama kunjungan para turis dunia karena pesona di dalamnya yang sulit tertandingi oleh tempat lainnya,” ujar Anshori.

Entry filed under: Berita Lampung, Pariwisata Lampung, Seputar Lampung, Warga Lampung. Tags: .

Festival Krakatau XVII 2007 Kemiskinan VS Radikal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 8,727 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.


%d bloggers like this: