Kemiskinan dan Kesehatan

February 1, 2007 at 6:24 pm Leave a comment

“Mak, aku enggak usah belajar, ya. Aku mau main saja,” kata Rosi (6), bocah laki-laki kelas I SD Gudang Garam, Bandar Lampung, kepada ibunya dengan logat cadel. Ia pun menjauh dari emaknya dan sibuk berjoget.

Dilihat sepintas saja sudah terlihat kalau Rosi tidak sehat. Rambutnya merah, kulitnya kusam tidak sehat. Wajahnya cekung, badannya kecil, kurus, tidak sesuai antara umur dan tinggi badannya. Sambil berjoget ia memegangi walkman kecilnya.

Ketika ditanya ia tengah mendengarkan lagu apa, Rosi mengangkat muka dan menjawab tidak jelas, “Lagu EBI.” Sesaat, jawaban aneh tersebut membingungkan. Setelah ditanya lagi, ternyata yang dimaksud ialah lagu berirama R&B.

Di Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung, anak-anak berpenampilan tidak sehat seperti Rosi banyak dijumpai. Lingkungan padat penduduk itu terdiri atas rumah-rumah petak berukuran kecil dan tidak terawat.

Di atas gang sempit yang hanya cukup dilewati satu orang, penduduk menjemur baju-baju yang sudah dicuci dengan cara digantung di bawah atap atau teritis. Lingkungan makin terasa kumuh dan kotor karena rumah-rumah di sana dibangun berdempetan tanpa celah, apalagi halaman. Satu rumah bisa dihuni satu sampai empat keluarga.

Di depan rumah, di sebuah lorong sempit, laki-laki dewasa dan perempuan duduk-duduk tanpa melakukan pekerjaan yang jelas. Anak-anak usia 2-10 tahun bermain dengan bebas di lorong-lorong yang sempit.

Beberapa di antara anak-anak itu bermain sambil menggaruk-garuk kulit kepala dan bagian tubuh lainnya. “Anak saya memang tidak sehat kulitnya. Kami semua di RT 26 dan 27, entah anak-anak atau orang dewasa, sebagian besar bermasalah dengan kulit,” tutur Sarpini (27), warga RT 26.

Selain masalah kulit, anak-anak banyak yang terpengaruh oleh lingkungan bebas di wilayah itu. Banyak di antaranya yang bermain dengan gaya polos anak-anak. Ada pula beberapa di antaranya yang mulai berbicara dengan langgam orang dewasa.

Tumpang tindih

“Di sini masalahnya tumpang tindih. Mulai dari lingkungan yang tidak cukup sehat, lingkungan sosial yang tidak mendukung pertumbuhan anak-anak, hingga tingkat pendidikan yang rendah,” papar Haldi, pendamping anak-anak jalanan dari Lembaga Advokasi Anak (LADA) Lampung, baru-baru ini.

Dengan lokasi yang berbatasan langsung dengan Teluk Lampung yang sudah tercemar aneka limbah, wilayah itu tampak kusam. Sebagian besar penduduk di kawasan tersebut bekerja sebagai buruh pelabuhan, tukang becak di daerah Teluk, hingga pemulung.

Akibatnya, jangankan bisa memikirkan kesehatan, memikirkan makanan untuk sehari-hari saja sulit. Dari lingkungan kumuh dan padat semacam itulah, berbagai penyakit sosial ataupun penyakit karena lingkungan, mulai diare hingga gizi buruk, muncul.

Rusli (46), warga RT 27 yang bekerja sebagai tukang becak, menuturkan, seharian bekerja mengayuh becak, ia hanya mampu menghasilkan uang Rp 8.000. Sedangkan Cici (42), istrinya, saban hari bekerja sebagai buruh cuci keliling. Upah yang diperoleh sekitar Rp 100.000 per bulan.

Dengan dua anak perempuan usia sekolah, pasangan Rusli dan Cici akhirnya hanya bisa menghidupi anak-anaknya apa adanya.

Faktor pemicu

Kepala Pelayanan Medis RS Abdoel Muluk (RSAM) Arief Effendi mengatakan, contoh kondisi ekonomi di Pesawahan itu cukup menggambarkan betapa belitan kemiskinan di wilayah perkotaan dan pedesaan di Lampung merupakan faktor pemicu meningkatnya jumlah pasien gizi buruk yang dirawat di RSAM.

Sebagai rumah sakit rujukan dari 10 kabupaten/kota di Lampung, pada 2005 terdapat 40 pasien balita dan bayi gizi buruk yang ditangani RSAM. Sedangkan Januari-September 2006, bayi atau balita gizi buruk yang ditangani sudah mencapai 46 pasien dengan atau tanpa penyakit penyerta.

“Meningkatnya pasien gizi buruk di RSAM rata-rata disebabkan kemiskinan. Orangtua pasien kesulitan menyediakan makanan bergizi dan bagus untuk pertumbuhan balita, sedangkan lingkungan mereka biasanya tidak terjaga,” ungkap Arief.

Kepala Subdinas Bina Pelayanan Masyarakat Dinas Kesehatan Lampung Mulyanti menyebutkan, meningkatnya jumlah pasien gizi buruk itu salah satu faktor pemicunya akibat tidak aktifnya lagi sekitar 60 persen pos pelayanan terpadu (posyandu) dari 7.205 posyandu di Lampung.

Dari posyandu yang aktif itu, kegiatan yang dilakukan juga terbatas pada penimbangan saja. Dari pemantauan, 60 persen kader posyandu salah menimbang bayi. Kesalahan itu terjadi akibat tidak adanya penyegaran atau pelatihan untuk petugas. Adapun pemeriksaan ibu hamil dan lain-lainnya tidak pernah dilakukan.

Akibatnya, sebagai pusat pelayanan kesehatan dasar, keberadaan posyandu di Lampung tidak berdampak. Justru yang semakin menonjol, selain menyebabkan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat akan kesehatan, tingkat kesehatan ibu hamil juga rendah. Dampaknya terlihat pada kualitas bayi yang dilahirkan.

Herdi Mansyah, Ketua Eksekutif Koalisi Untuk Lampung Sehat (KULS), mengutarakan, salah satu cara menyelesaikan masalah kesehatan adalah pemerintah harus memiliki konsep merevitalisasi posyandu yang tepat. “Jangan asal mengucurkan dana Rp 1,8 juta per posyandu tanpa konsep jelas dan monitoring ketat,” ujarnya.

Dikhawatirkan, program yang akan dikerjakan bersamaan dengan pengucuran Rp 1 miliar-Rp 2 miliar per desa itu hanya akan menjadi program monumental saja. Dari sisi kesehatan, dana sebesar itu pun sebenarnya belum cukup untuk revitalisasi posyandu.

Ia pun menyatakan pesimistis Lampung bisa sehat. Ini mengingat banyaknya kader posyandu yang tidak aktif dan banyak posyandu yang tinggal papan nama, di samping belum meratanya sarana kesehatan serta belum adanya konsep pembangunan kesehatan yang jelas.

Saat ini, kata Herdi, yang paling dibutuhkan masyarakat sebenarnya, bagaimana masyarakat bisa mengakses pelayanan kesehatan semudah dan semurah mungkin. Catatan Dinas Kesehatan Lampung menyebutkan, dari 2.258 desa/kelurahan di Lampung, hanya sebanyak 938 desa/kelurahan yang memiliki sarana kesehatan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga puskesmas pembantu.

“Dengan tingginya angka penduduk miskin di Lampung, seharusnya pemerintah berpikir, pembangunan terpadu seperti apa yang bisa mengurangi kemiskinan sehingga turut mendongkrak angka kesehatan masyarakat,” kata Herdi.

Entry filed under: Berita Lampung, Pendidikan Lampung, Seputar Lampung, Warga Lampung. Tags: .

Wisata Alam Lampung Taman Bumi Kedaton

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 8,727 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.


%d bloggers like this: